Waspada Diabetes dan Hipertensi Bisa Menyebabkan Kebutaan Permanen
![]() |
| Waspada Diabetes dan Hipertensi Bisa Menyebabkan Kebutaan Permanen |
LANGGAMPOS.COM - Kerusakan organ penglihatan akibat komplikasi penyakit kronis seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi) sering kali berlangsung tanpa gejala awal yang berarti.
Banyak penderita tidak menyadari bahwa pembuluh darah halus di mata mereka perlahan rusak, hingga akhirnya fungsi penglihatan menurun secara drastis dan permanen.
Masyarakat pada umumnya telah memahami bahwa diabetes dan hipertensi merupakan faktor risiko utama dari serangan jantung, stroke, serta gagal ginjal.
Kendati demikian, dampak buruk kedua kondisi sistemik ini terhadap kesehatan mata masih sering terabaikan dan kurang mendapat perhatian serius.
Diabetes diketahui dapat merusak struktur pembuluh darah halus pada lapisan retina—kondisi yang dikenal dalam dunia medis sebagai retinopati diabetik.
Diabetes diketahui dapat merusak struktur pembuluh darah halus pada lapisan retina—kondisi yang dikenal dalam dunia medis sebagai retinopati diabetik.
Di sisi lain, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang berpotensi mengganggu sirkulasi darah serta jaringan pendukung fungsi penglihatan.
Proses kerusakan ini tergolong cukup berbahaya karena sifatnya yang silent atau tanpa rasa sakit.
Proses kerusakan ini tergolong cukup berbahaya karena sifatnya yang silent atau tanpa rasa sakit.
Pasien kerap merasa pandangannya masih jernih dan tetap bisa menjalankan aktivitas harian seperti membaca atau mengemudi tanpa hambatan, padahal gangguan pada jaringan mata sudah mulai terjadi.
"Banyak pasien secara rutin memantau kadar gula darah, tekanan darah, serta fungsi jantung dan ginjal, tetapi mungkin belum menyadari bahwa mata juga dapat terdampak," ungkap Dr. Low Jin Rong, dokter spesialis mata konsultan di Cornerstone Eye Centre pada Jumat (24/7/2026).
Salah satu komplikasi mata paling serius yang dapat dipicu oleh diabetes dan hipertensi adalah glaukoma. Penyakit ini kerap dijuluki sebagai "pencuri penglihatan" (silent thief of sight) karena merusak saraf optik secara perlahan dan tanpa disadari penderitanya.
Pada tahap awal, glaukoma umumnya mengikis lapang pandang bagian samping (perifer). Lantaran pusat penglihatan tengah masih berfungsi dengan baik, penderita sering kali tidak merasa ada masalah hingga sebagian besar fungsi penglihatannya hilang secara permanen.
Selain penyakit sistemik seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, terdapat beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kerusakan saraf optik:
Kerusakan penglihatan yang disebabkan oleh glaukoma bersifat ireversibel alias tidak dapat disembuhkan atau dikembalikan seperti semula.
"Banyak pasien secara rutin memantau kadar gula darah, tekanan darah, serta fungsi jantung dan ginjal, tetapi mungkin belum menyadari bahwa mata juga dapat terdampak," ungkap Dr. Low Jin Rong, dokter spesialis mata konsultan di Cornerstone Eye Centre pada Jumat (24/7/2026).
Salah satu komplikasi mata paling serius yang dapat dipicu oleh diabetes dan hipertensi adalah glaukoma. Penyakit ini kerap dijuluki sebagai "pencuri penglihatan" (silent thief of sight) karena merusak saraf optik secara perlahan dan tanpa disadari penderitanya.
Pada tahap awal, glaukoma umumnya mengikis lapang pandang bagian samping (perifer). Lantaran pusat penglihatan tengah masih berfungsi dengan baik, penderita sering kali tidak merasa ada masalah hingga sebagian besar fungsi penglihatannya hilang secara permanen.
Selain penyakit sistemik seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, terdapat beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kerusakan saraf optik:
- Tekanan dalam bola mata (tekanan intraokular) yang tinggi
- Adanya riwayat penyakit glaukoma dalam keluarga
- Penderita miopia (mata minus) tingkat tinggi
- Faktor pertambahan usia
- Riwayat cedera pada mata serta penggunaan obat golongan kortikosteroid dalam jangka panjang
Kerusakan penglihatan yang disebabkan oleh glaukoma bersifat ireversibel alias tidak dapat disembuhkan atau dikembalikan seperti semula.
Oleh sebab itu, langkah pencegahan terbaik bagi penderita penyakit kronis adalah dengan melakukan pemeriksaan mata secara berkala ke dokter spesialis.
Meskipun fungsi penglihatan yang sudah hilang tidak bisa dipulihkan, diagnosis sejak dini mampu mencegah pemburukan kondisi secara signifikan.
Meskipun fungsi penglihatan yang sudah hilang tidak bisa dipulihkan, diagnosis sejak dini mampu mencegah pemburukan kondisi secara signifikan.
Penanganan yang tepat dari dokter spesialis mata—baik melalui pemberian obat tetes mata khusus, terapi laser, hingga tindakan pembedahan—dapat memperlambat laju kerusakan saraf optik sehingga kualitas hidup pasien tetap terjaga.
(*)
Pertanyaan Umum (FAQ)
Tidak. Kerusakan saraf optik akibat glaukoma bersifat ireversibel (permanen). Namun, dengan deteksi dini dan penanganan medis yang tepat, laju keparahan penyakit dapat diperlambat agar pasien tidak mengalami total kehilangan penglihatan.
Kadar gula darah yang tinggi secara konsisten dapat merusak pembuluh darah kapiler pada retina dan meningkatkan risiko glaukoma. Pemeriksaan rutin membantu mengidentifikasi kerusakan pembuluh darah sebelum gejala klinis muncul.
Pada tahap awal, glaukoma sering kali tidak menimbulkan gejala atau rasa sakit sama sekali. Gejala baru terasa saat lapang pandang samping mulai menyempit, sehingga penderita merasa seperti melihat di dalam lorong (tunnel vision).
Penderita diabetes dan hipertensi disarankan melakukan pemeriksaan mata menyeluruh sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun, atau sesuai dengan anjuran dokter spesialis mata yang menangani.
(*)
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apakah penyakit glaukoma bisa disembuhkan secara total?
Tidak. Kerusakan saraf optik akibat glaukoma bersifat ireversibel (permanen). Namun, dengan deteksi dini dan penanganan medis yang tepat, laju keparahan penyakit dapat diperlambat agar pasien tidak mengalami total kehilangan penglihatan.
Mengapa penderita diabetes wajib memeriksakan mata secara rutin?
Kadar gula darah yang tinggi secara konsisten dapat merusak pembuluh darah kapiler pada retina dan meningkatkan risiko glaukoma. Pemeriksaan rutin membantu mengidentifikasi kerusakan pembuluh darah sebelum gejala klinis muncul.
Apa saja gejala awal yang biasa dirasakan oleh penderita glaukoma?
Pada tahap awal, glaukoma sering kali tidak menimbulkan gejala atau rasa sakit sama sekali. Gejala baru terasa saat lapang pandang samping mulai menyempit, sehingga penderita merasa seperti melihat di dalam lorong (tunnel vision).
Seberapa sering penderita hipertensi dan diabetes harus cek mata?
Penderita diabetes dan hipertensi disarankan melakukan pemeriksaan mata menyeluruh sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun, atau sesuai dengan anjuran dokter spesialis mata yang menangani.
Tag Artikel:
#KesehatanMata #DiabetesMelitus #Hipertensi #Glaukoma #RetinopatiDiabetik #KebutaanPermanen #PenyakitKronis #DeteksiDini #Kesehatan #GayaHidupSehat #DokterMata #TipsKesehatan
