Iklan

Friday, April 24, 2026, 10:40 AM WIB
Last Updated 2026-04-24T03:40:12Z
Cryptocrypto newscrypto prices

Bitcoin Incar Level $100.000, Nasib Crypto Kini Bergantung pada Manuver Politik Washington

Bitcoin Incar Level $100.000, Nasib Crypto Kini Bergantung pada Manuver Politik Washington

  • Proyeksi Bitcoin menembus angka psikologis $100.000 kembali menguat seiring momentum reli terbaru di pasar kripto.
  • Pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed menjadi sinyal positif bagi adopsi aset digital di sistem keuangan AS.
  • Nasib regulasi industri kripto berada di ujung tanduk menyusul sempitnya jendela waktu pengesahan Clarity Act sebelum pemilu paruh waktu.




LANGGAMPOS.COM - Harapan agar Bitcoin menyentuh angka fantastis $100.000 kini kembali membuncah di kalangan investor. Namun, realisasi target tersebut sepenuhnya bergantung pada langkah strategis Washington terkait kepemimpinan Federal Reserve dan nasib Undang-Undang Clarity Act.

Kehadiran sosok Ketua The Fed yang ramah terhadap kripto serta kerangka kerja pasar yang komprehensif di AS diyakini mampu memperkuat lonjakan harga saat ini. Sebaliknya, momentum ini bisa saja menguap jika hambatan politik di tingkat parlemen kembali menjegal.

Dalam dua pekan terakhir, Bitcoin tercatat sudah mendaki sekitar 10% dan kini diperdagangkan di kisaran harga $78.000. Meski begitu, posisi ini sebenarnya masih berada 38% di bawah titik tertingginya pada Oktober lalu.

Menariknya, para trader di platform Polymarket kini mulai bersikap skeptis. Peluang konfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed sebelum 15 Mei merosot tajam ke angka 28%, padahal sebelumnya sempat menyentuh angka 92% pada Maret silam.

Menurut Luca Köymen, pakar strategi investasi di Sygnum Bank, level $100.000 adalah "magnet berikutnya" bagi Bitcoin jika tren penguatan ini terus berlanjut secara konsisten.

Kepada DL News, Köymen mengungkapkan bahwa narasi struktural memberikan sinyal yang jauh lebih kuat dibandingkan fluktuasi jangka pendek di pasar keuangan.

Ia menilai, akses perbankan yang lebih terbuka, absennya persaingan dari mata uang digital bank sentral (CBDC), dan kehadiran pemimpin yang menganggap kripto sebagai bagian dari sistem keuangan adalah hal yang sangat krusial.

"Seorang ketua (The Fed) yang memperlakukan kripto sebagai bagian yang tertanam di sistem, ketimbang menganggapnya sebagai barang eksotis, adalah hal yang jauh lebih besar pengaruhnya," jelas Köymen.

Risiko perubahan rezim di tubuh The Fed memang menjadi sorotan utama. Presiden AS Donald Trump sendiri telah mengambil langkah tegas dengan melarang pengembangan CBDC ritel melalui perintah eksekutif.

Trump telah menominasikan mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, untuk menggantikan posisi Jerome Powell yang masa jabatannya akan segera berakhir pada pertengahan Mei mendatang.

Warsh dikenal luas sebagai sosok yang pro terhadap aset digital. Dalam sidang konfirmasi di Senat baru-baru ini, ia menegaskan bahwa mata uang kripto sudah menjadi bagian dari "struktur" sistem keuangan Amerika Serikat.

Ia bahkan secara terbuka menyebut rencana pembuatan CBDC oleh pemerintah AS sebagai pilihan kebijakan yang buruk dan menyatakan tidak akan mendukung hal tersebut jika dirinya terpilih memimpin.

Köymen bahkan memberikan pujian tinggi dengan menyebut Warsh sebagai sosok calon ketua yang paling paham teknologi kripto sepanjang sejarah berdirinya bank sentral Amerika Serikat.

"Dia memahami teknologinya dan secara terbuka menyebut Bitcoin sebagai kekuatan disipliner terhadap kebijakan yang buruk," tambah Köymen menekankan pentingnya peran Warsh.

Namun, jalan Warsh menuju kursi kepemimpinan tidaklah mulus. Senator Republik, Thom Tillis, menyatakan kekhawatirannya terkait stabilitas pasar di bawah kendali Warsh, yang membuat peluang konfirmasinya di Polymarket merosot.

Di sisi lain, batas waktu pengesahan Clarity Act juga semakin sempit. Undang-undang ini digadang-gadang sebagai aturan paling berdampak bagi struktur pasar kripto di AS, mulai dari bursa, stablecoin, hingga penyimpanan aset digital.

Alex Thorn, Kepala Riset di Galaxy Digital, mengingatkan bahwa jika pembahasan ini meleset melewati pertengahan Mei, kemungkinan untuk disahkan pada tahun 2026 akan menurun secara drastis.

Pasalnya, Senat AS saat ini tengah sibuk dengan agenda lain yang padat, mulai dari debat mengenai isu Iran hingga masalah pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri.

Thorn memprediksi peluang pengesahan undang-undang tersebut hanya berada di angka 50% tahun ini. Jika gagal memanfaatkan jendela waktu yang ada, isu ini berisiko hilang dari agenda prioritas pasca pemilu paruh waktu.

Bagi Köymen, pengesahan Clarity Act secara dini akan menjadi kemenangan struktural yang nyata bagi industri karena memberikan kerangka kerja yang sangat dibutuhkan oleh pelaku pasar di Negeri Paman Sam.

Hingga saat ini, mengutip data dari crypto.news, Bitcoin masih terpantau bergerak menyamping di kisaran harga $78.049. Sementara itu, Ethereum mengalami sedikit koreksi sebesar 1,9% ke level $2.344.

Pergeseran personel di jajaran The Fed memang berulang kali mengubah narasi makro bagi Bitcoin. Pasar kini tengah menunggu apakah kebijakan politik di Washington akan menjadi katalis pendorong atau justru menjadi penghambat langkah Bitcoin menuju rekor baru.


(*)


(Sumber: crypto.news, 23/04/2026)
Advertisement
close