- Pantera Capital menuntut Satsuma Technology Plc segera melikuidasi kepemilikan Bitcoin senilai $50 juta.
- Harga saham perusahaan asal London ini mengalami kejatuhan drastis hingga 98 persen dari titik puncaknya.
- Sentimen pasar terhadap strategi perbendaharaan berbasis kripto mulai mendingin akibat volatilitas harga yang ekstrem.
LANGGAMPOS.COM - Langkah berani Satsuma Technology Plc dalam menimbun aset digital kini berbalik menjadi bumerang setelah investor kakap mulai kehilangan kesabaran.
Pantera Capital, perusahaan modal ventura yang fokus pada aset kripto, secara terbuka mendesak perusahaan yang melantai di bursa London tersebut untuk segera mengosongkan brankas Bitcoin mereka.
Melalui DAT Opportunity Fund, Pantera yang menguasai sekitar 6,7 persen saham perusahaan, menuntut agar Satsuma menjual seluruh kepemilikan asetnya dan mengembalikan dana tersebut kepada para pemegang saham.
Langkah ini mencerminkan pergeseran drastis sentimen pasar terhadap perusahaan-perusahaan yang sebelumnya dipuja karena strategi agresif mereka dalam mengadopsi mata uang kripto sebagai cadangan kas.
Satsuma saat ini diperkirakan masih menggenggam sekitar 646 BTC dengan nilai pasar mendekati angka $50 juta, jumlah yang kini dianggap sebagai pelampung terakhir bagi para investor.
Berdasarkan laporan terbaru dari Bloomberg (24/04/2026), tekanan ini muncul setelah performa saham Satsuma terjun bebas hingga 98 persen dari harga puncaknya sebesar £14 pada Juni tahun lalu.
Manajemen perusahaan telah mengonfirmasi adanya tuntutan pengembalian modal tersebut kepada publik, meski mereka enggan merinci identitas setiap investor yang terlibat dalam barisan penuntut.
Executive Chairman Satsuma, Ranald McGregor-Smith, menyatakan bahwa pihaknya tengah mengevaluasi berbagai opsi strategis untuk merespons tuntutan tersebut dengan tetap mempertimbangkan kepentingan kolektif pemegang saham.
"Perusahaan sedang mengkaji pilihan-pilihan yang tersedia guna merespons permintaan ini sambil menjaga keseimbangan kepentingan seluruh pemilik saham," tutur McGregor-Smith dalam keterangan resminya.
Padahal, pada Agustus 2025 lalu, Satsuma berhasil menghimpun dana segar sebesar £164 juta melalui penerbitan obligasi konversi yang kelebihan permintaan (oversubscribed).
Dukungan saat itu datang dari raksasa industri kripto seperti Kraken, Pantera Capital, Borderless Capital, hingga Digital Currency Group yang percaya pada visi jangka panjang perusahaan.
Namun, arah angin berubah dengan cepat seiring fluktuasi harga Bitcoin yang mengguncang kepercayaan pasar global secara masif dalam beberapa bulan terakhir.
Sebagai langkah penyelamatan awal, Satsuma sebenarnya telah melepas 579 BTC pada Desember silam, yang kala itu menyumbang dana cair sekitar £40 juta.
Dinamika pasar memang tidak menunjukkan belas kasihan, di mana harga Bitcoin sempat terbang melampaui $126.000 pada Oktober lalu sebelum akhirnya ambruk ke level $60.000 di awal Februari.
Kondisi internal Satsuma pun kian rapuh dengan mundurnya sejumlah petinggi, mulai dari hengkangnya salah satu direktur pada Februari hingga pengunduran diri CEO Henry Elder pada Maret.
Krisis yang menimpa Satsuma ini seolah membenarkan kekhawatiran para pakar ekonomi mengenai risiko sistemik yang mengintai perusahaan dengan paparan aset kripto yang berlebihan.
Awal tahun ini, investor kawakan Michael Burry sempat memperingatkan bahwa penurunan harga Bitcoin bisa memicu efek domino yang merugikan sektor keuangan yang lebih luas.
Burry menjelaskan bahwa ketika harga aset digital ini menembus level teknis krusial, tekanan likuiditas akan menjalar dari pasar kripto ke sektor finansial konvensional yang saling terhubung.
Ia juga menekankan bahwa penurunan harga lebih lanjut sebesar 10 persen saja dapat membuat pemegang besar menghadapi kerugian yang belum direalisasi hingga miliaran dolar.
Risiko ini tidak hanya membatasi akses perusahaan terhadap pasar modal, tetapi juga meningkatkan ancaman kebangkrutan bagi mereka yang membeli aset di harga tinggi.
Kritik senada datang dari Zac Prince dari Galaxy Digital yang meragukan keberlanjutan model bisnis berbasis perbendaharaan Bitcoin tanpa adanya operasional bisnis inti yang kuat.
Menurut Prince, valuasi perusahaan tidak bisa hanya bersandar pada struktur keuangan yang kompleks, melainkan harus dibuktikan dengan produktivitas nyata di luar pergerakan harga pasar aset digital.
(*)

