Iklan

Friday, April 24, 2026, 10:16 AM WIB
Last Updated 2026-04-24T03:16:08Z
Economy

IHSG Ambruk 1,54% ke Level 7.264 di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Geopolitik

IHSG Ambruk 1,54% ke Level 7.264 di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Geopolitik


  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam lebih dari 1% pada pembukaan perdagangan akhir pekan, Jumat (24/4/2026).
  • Lonjakan harga minyak mentah Brent hingga di atas US$ 105 per barel dan penguatan indeks dolar AS menjadi penekan utama pasar domestik.
  • Ketidakpastian di Timur Tengah masih membayangi sentimen investor global meski ada kabar perpanjangan gencatan senjata Israel-Lebanon.

LANGGAMPOS.COM
- Pasar modal Indonesia mengawali penutupan pekan ini dengan rapor merah yang cukup dalam. Tekanan jual masif membuat laju indeks terpental dari zona hijaunya sejak menit awal pembukaan.

Berdasarkan data bursa hingga pukul 09.47 WIB, IHSG tercatat terjun bebas 113,71 poin atau setara 1,54% ke posisi 7.264,89.

Kondisi pasar terlihat sangat timpang dengan 527 saham yang bergerak melemah. Sementara itu, hanya 118 saham yang mampu bertahan naik, dan 95 lainnya stagnan.

Aksi jual ini diiringi dengan nilai transaksi yang cukup likuid mencapai Rp 6,25 triliun. Sebanyak 14,67 miliar lembar saham berpindah tangan dalam 827.676 kali frekuensi transaksi.

Derasnya arus keluar modal ini pun berdampak langsung pada nilai kapitalisasi pasar yang kini menyusut ke angka Rp 13.013 triliun.

Hampir tidak ada sektor yang selamat dari aksi ambil untung kali ini. Seluruh sektor perdagangan kompak memerah, dipimpin oleh sektor infrastruktur, konsumer, properti, dan energi.

Pelemahan indeks kian diperberat oleh rontoknya harga saham-saham blue chip dengan kapitalisasi besar (big caps).

Nama-nama besar seperti BBCA, BBRI, AMMN, DSSA, dan TLKM menjadi kontributor utama yang menyeret IHSG jatuh ke zona merah pada pagi ini.

Sentimen negatif utamanya bersumber dari eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran pelaku pasar global.

Melonjaknya harga minyak dunia dan penguatan indeks dolar AS menjadi kombinasi "maut" yang menekan posisi rupiah sekaligus daya tarik aset berisiko di dalam negeri.

Harga minyak Brent kembali terbang dengan kenaikan lebih dari 3% dan mendarat di US$ 105,07 per barel, level tertinggi sejak 7 April lalu.

Setali tiga uang, indeks dolar AS (DXY) juga menguat tajam ke level 98,77. Angka ini merupakan posisi tertinggi mata uang Negeri Paman Sam sejak awal April 2026.

Di sisi lain, bursa Asia-Pasifik bergerak variatif di tengah kewaspadaan tinggi investor terhadap ketidakpastian politik di kawasan Mediterania Timur.

Meskipun terdapat kabar bahwa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon diperpanjang selama tiga minggu, pelaku pasar tampaknya belum sepenuhnya tenang.



(*)
Advertisement
close