- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan tidak akan ada kenaikan tarif pajak maupun jenis pajak baru dalam waktu dekat.
- Pemerintah memprioritaskan perbaikan daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi hingga menyentuh angka 6 persen sebelum mengevaluasi kebijakan pajak.
- Target pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan mampu mencapai 8 persen dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun mendatang.
LANGGAMPOS.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa angin segar bagi pelaku usaha dan masyarakat luas terkait kepastian kebijakan fiskal nasional.
Pemerintah secara resmi menyatakan tidak akan mengerek tarif pajak maupun memperkenalkan jenis pajak baru dalam periode singkat ini.
Langkah ini diambil dengan pertimbangan matang, terutama menunggu pulihnya daya beli masyarakat serta laju pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil.
Purbaya menetapkan indikator pertumbuhan ekonomi di level 6 persen sebagai syarat mutlak sebelum pemerintah mempertimbangkan penyesuaian tarif pajak kembali.
Sebagai catatan, pada penutupan kuartal keempat tahun 2025 lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia bertengger di angka 5,39 persen.
"Fokus pemerintah saat ini adalah meningkatkan kepatuhan dan menutup kebocoran pajak, bukan menaikkan tarif," tegas Purbaya dalam keterangan resminya, Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga jauh lebih krusial karena sektor ini merupakan mesin penggerak utama pertumbuhan domestik.
Struktur ekonomi Indonesia sejauh ini masih sangat bergantung pada tiga pilar utama, yakni konsumsi, investasi, dan aktivitas perdagangan.
Guna memastikan roda ekonomi terus berputar, pemerintah berkomitmen untuk mengawal sektor swasta agar tidak terhambat oleh kendala birokrasi.
"Maka dari itu, kami akan terus jaga sektor swasta agar terus tumbuh, salah satunya dengan satgas P2SP atau debottlenecking," tambahnya.
Di sisi lain, Purbaya tetap optimistis terhadap target besar yang dicanangkan pemerintah, yakni pertumbuhan ekonomi di angka 8 persen.
Baginya, angka tersebut bukanlah sekadar mimpi, melainkan target realistis yang dapat dicapai dalam rentang waktu dua hingga tiga tahun ke depan.
Optimisme ini didasarkan pada penguatan fondasi ekonomi serta percepatan reformasi struktural yang tengah digenjot di berbagai lini sektor.
Ia meyakini bahwa akselerasi yang dilakukan saat ini akan membawa posisi ekonomi nasional melesat jauh dari level 5 persen yang ada sekarang.
"Pertumbuhan 8% mungkin orang-orang bilang terlalu tinggi, tapi kalau untuk saya sudah hampir kelihatan," ungkap Purbaya dengan nada yakin.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana di Bursa Efek Indonesia, Senin (27/4/2026).
Purbaya bahkan memprediksi bahwa dalam beberapa tahun ke depan, publik akan mulai melihat tren pertumbuhan yang semakin kompetitif.
"Nanti dua tahun, tiga tahun lagi Anda sudah melihat tuh, angka 8% sudah nyundul-nyundul ke atas," lanjut mantan Ketua Dewan Komisioner LPS tersebut.
Strategi pemerintah saat ini berfokus pada dua jalur paralel, yakni penguatan peran sektor swasta serta optimalisasi belanja negara yang berkualitas.
Melalui pendekatan ini, pemerintah berharap iklim investasi tetap kondusif tanpa harus memberikan beban tambahan berupa kenaikan pajak di tengah masa pemulihan.
(*)

