- Penurunan hormon testosteron pada pria usia 50 tahun ke atas memicu perubahan karakter menjadi lebih lembut, manja, dan membutuhkan perhatian lebih.
- Sebaliknya, wanita yang memasuki masa pramenopause mengalami peningkatan dominasi testosteron yang membuat mereka lebih mandiri, tegas, dan aktif di luar rumah.
- dr. Aisah Dahlan menekankan pentingnya pemahaman pasangan suami istri terhadap perubahan biologis ini guna menghindari konflik di masa lansia.
LANGGAMPOS.COM - Memasuki gerbang usia kepala lima bukan sekadar soal angka atau perubahan fisik yang mulai nampak di permukaan. Lebih dari itu, terjadi pergeseran kimiawi di dalam tubuh yang secara drastis mengubah watak serta perilaku seseorang, baik pria maupun wanita.
Dalam sebuah seminar yang penuh edukasi, dr. Aisah Dahlan, CMHt., memaparkan fenomena unik mengenai "pertukaran peran" sifat antara suami dan istri saat memasuki usia senja. Fenomena ini sering kali menjadi pemicu keretakan jika tidak dipahami dengan kesadaran penuh oleh kedua belah pihak.
Menurut dr. Aisah, pria yang telah mencapai usia 50 hingga 60 tahun mengalami penurunan hormon testosteron yang cukup signifikan. Kondisi ini membuat agresivitas mereka berkurang dan sifat mendidiknya justru lebih menonjol.
"Testosteron pria menurun, tapi estrogennya (hormon wanita) menetap. Jadi mulai lebih lembut kayak perempuan dan sifat-sifat perempuannya lebih jelas," ujar dr. Aisah di hadapan para peserta seminar.
Perubahan ini bermanifestasi pada perilaku keseharian, di mana pria cenderung menjadi lebih "manja" dan tidak ingin ditinggal sendirian. Mereka yang dulunya mandiri, kini sering meminta ditemani dalam berbagai aktivitas ringan.
Tak jarang, para suami di usia ini menunjukkan sisi emosional yang lebih sensitif, mudah tersinggung, hingga keinginan yang besar untuk selalu dibelai, dituntun, dan dipeluk oleh pasangannya.
Kondisi yang berbanding terbalik justru terjadi pada kaum hawa yang memasuki masa premenopause atau menopause. Saat kadar estrogen menurun, hormon testosteron dalam tubuh wanita justru menjadi lebih dominan secara proporsional.
Hasilnya, wanita di usia 40 hingga 50 tahun ke atas tiba-tiba bertransformasi menjadi pribadi yang jauh lebih tegas, percaya diri, dan memiliki energi besar untuk beraktivitas di luar rumah.
"Kenapa? Estrogennya sudah menurun, tinggal hormon laki-lakinya nih. Makanya yang perempuan jadi lebih jantan, lebih senang keluar ngurus macam-macam," jelasnya disambut tawa para peserta.
Secara detail, dr. Aisah Dahlan merinci langkah-langkah dan poin penting yang terjadi selama proses perubahan hormonal ini:
Ketidaktahuan akan siklus biologis ini sering kali menciptakan kekacauan dalam rumah tangga. Di saat suami sedang ingin bermanja-manja di rumah, sang istri justru sedang berada di puncak semangat untuk mengeksplorasi dunia luar.
dr. Aisah mengingatkan para istri agar tetap bijaksana dalam mengatur waktu. Meskipun merasa sedang "kuat-kuatnya", peran untuk menjaga, memperhatikan, dan mendengarkan cerita suami tetap merupakan prioritas utama.
Menyanjung suami yang sudah berambut putih dengan kalimat positif, menurutnya, jauh lebih efektif daripada mengeluhkan perubahan fisik mereka yang mulai menua.
"Pria akan sangat gembira jika mereka dipahami. Daripada bilang 'Ayah cakepan dulu', lebih baik katakan 'Aku lebih senang Ayah yang sekarang, makin gagah'," saran dr. Aisah.
Memahami bahwa perubahan ini adalah fitrah atau ketetapan hormonal dari Tuhan akan membantu pasangan suami istri menjalani masa tua dengan lebih akur dan harmonis tanpa harus terus berselisih paham.
"Kenapa? Estrogennya sudah menurun, tinggal hormon laki-lakinya nih. Makanya yang perempuan jadi lebih jantan, lebih senang keluar ngurus macam-macam," jelasnya disambut tawa para peserta.
Secara detail, dr. Aisah Dahlan merinci langkah-langkah dan poin penting yang terjadi selama proses perubahan hormonal ini:
- Penurunan Agresivitas Pria: Berkurangnya testosteron membuat pria kehilangan sisi "pemburu" dan berubah menjadi sosok yang lebih "pengayom" atau "petani".
- Kebutuhan Afeksi Meningkat: Pria lansia membutuhkan validasi dan perhatian fisik lebih banyak, seperti pelukan dan sanjungan dari istri.
- Lonjakan Komunikasi di Rumah: Suami yang sudah pensiun akan menghabiskan kuota 7.000 kata hariannya di rumah, sehingga terkesan lebih "bawel" kepada istri.
- Kemandirian Wanita: Istri mulai merasa bebas dari tugas mengasuh anak kecil, sehingga energi testosteron dialihkan untuk berorganisasi, bisnis, atau kegiatan sosial.
- Perubahan Fisik Minor: Pada beberapa wanita, dominasi testosteron memicu tumbuhnya rambut halus di wajah atau kaki yang lebih jelas.
Ketidaktahuan akan siklus biologis ini sering kali menciptakan kekacauan dalam rumah tangga. Di saat suami sedang ingin bermanja-manja di rumah, sang istri justru sedang berada di puncak semangat untuk mengeksplorasi dunia luar.
dr. Aisah mengingatkan para istri agar tetap bijaksana dalam mengatur waktu. Meskipun merasa sedang "kuat-kuatnya", peran untuk menjaga, memperhatikan, dan mendengarkan cerita suami tetap merupakan prioritas utama.
Menyanjung suami yang sudah berambut putih dengan kalimat positif, menurutnya, jauh lebih efektif daripada mengeluhkan perubahan fisik mereka yang mulai menua.
"Pria akan sangat gembira jika mereka dipahami. Daripada bilang 'Ayah cakepan dulu', lebih baik katakan 'Aku lebih senang Ayah yang sekarang, makin gagah'," saran dr. Aisah.
Memahami bahwa perubahan ini adalah fitrah atau ketetapan hormonal dari Tuhan akan membantu pasangan suami istri menjalani masa tua dengan lebih akur dan harmonis tanpa harus terus berselisih paham.
(*)

