- Aliran modal keluar (outflow) dari ETF Bitcoin Spot mencapai $137,77 juta, mengakhiri tren positif sembilan hari berturut-turut.
- Ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed dan perpecahan internal di dewan gubernur menjadi beban utama bagi selera risiko investor.
- Analis memprediksi potensi short squeeze jika Bitcoin mampu bertahan di atas level dukungan kunci di tengah sentimen pasar yang negatif.
LANGGAMPOS.COM - Pasar kripto kembali dipaksa bersabar setelah Bitcoin gagal menembus level psikologis $78.000, meskipun kehadiran institusi di ruang digital ini semakin nyata.
Data terbaru dari SoSoValue mengonfirmasi adanya arus keluar bersih (net outflow) dari ETF Bitcoin sebesar $137,77 juta pada perdagangan 29 April lalu.
Angka ini menandai sesi ketiga berturut-turut di mana modal keluar dari pasar, sekaligus memutus rantai arus masuk yang sempat bertahan selama sembilan hari.
Menariknya, sesi tersebut menjadi momen pertama di mana tidak ada satu pun penerbit ETF yang mencatatkan angka positif; semuanya berada di zona merah.
Raksasa manajemen aset BlackRock melalui IBIT memimpin arus keluar sebesar $54,73 juta, disusul oleh FBTC milik Fidelity yang kehilangan $36,13 juta.
CEO ZeroStack, Daniel Reis-Faria, menilai bahwa stagnasi harga Bitcoin saat ini sebenarnya tidak terlalu berkaitan dengan dinamika internal industri kripto.
“Bitcoin tetap berada di bawah angka $78.000 bukan karena masalah kripto, melainkan karena apa yang terjadi di pasar makro secara luas,” ujar Daniel.
Menurutnya, keputusan The Fed untuk menahan suku bunga memang sudah diprediksi, namun ketiadaan arah kebijakan yang jelas membuat investor ragu untuk masuk.
Secara historis, Bitcoin cenderung mengalami koreksi setelah delapan dari sembilan pertemuan FOMC terakhir, akibat aksi lepas posisi para trader pasca-pertemuan.
Namun, situasi kali ini terasa lebih pelik karena adanya perpecahan suara (dissent) di internal The Fed, sebuah fenomena yang pertama kali terjadi sejak 1992.
Ketidakpastian semakin diperparah dengan pengumuman Jerome Powell yang akan tetap menjabat melampaui 15 Mei, yang justru memicu ambiguitas kepemimpinan.
Kepala Ekonom Kraken, Thomas Perfumo, mencatat bahwa pasar kini jauh lebih khawatir terhadap ketidakpastian kebijakan daripada sekadar penahanan suku bunga.
Dampaknya terlihat jelas pada penurunan permintaan di pasar ETF, di mana daya beli saat ini belum cukup kuat untuk mendorong harga ke level yang lebih tinggi.
“Ini bukan berarti institusi meninggalkan pasar, mereka hanya memilih untuk tidak menambah eksposur saat ini,” tambah Reis-Faria menjelaskan fenomena tersebut.
Meski terjadi arus keluar jangka pendek, bulan April tetap ditutup dengan total arus masuk bersih sebesar $2,44 miliar, sebuah pembalikan positif dibanding kuartal sebelumnya.
Data dari Glassnode menunjukkan bahwa harga Bitcoin saat ini masih berada di bawah rerata pasar yang sebenarnya (True Market Mean).
Biaya perolehan pemegang jangka pendek saat ini terkonsentrasi di kisaran $78.000 hingga $79.000, yang kini menjadi resistensi kuat.
Di sisi lain, wilayah $65.000 hingga $70.000 diproyeksikan menjadi area dukungan (support) utama jika tekanan jual kembali meningkat secara agresif.
Posisi pada pasar berjangka abadi (perpetual futures) pun mencapai titik negatif terdalam dalam sejarah, yang secara teknis sering memicu lonjakan harga tiba-tiba.
Para analis kini memantau ketat pergerakan harga di atas level $74.500 sebagai sinyal bahwa tekanan jual pasca-FOMC mulai mencapai titik jenuh.
“Jika modal mulai kembali masuk, terutama dari institusi melalui ETF, Bitcoin bisa bergerak naik dengan sangat cepat,” pungkas CEO ZeroStack tersebut.
Bulan Mei akan menjadi periode krusial dengan sejumlah katalis besar, mulai dari laporan pendapatan perusahaan teknologi raksasa hingga isu geopolitik di Timur Tengah.
Perkembangan terkait UU CLARITY dan konfirmasi senat AS juga akan menjadi faktor penentu apakah Bitcoin akan kembali melesat atau tetap tertahan di zona konsolidasi.
(*)

