- Seorang guru PPPK di Pulau Kangean, Sumenep, harus menempuh perjalanan 24 kilometer pulang-pergi melalui akses jalan yang rusak parah.
- Kondisi jalan yang lebih rendah dari lahan persawahan membuat banjir sering merendam jalur utama menuju sekolah selama berhari-hari.
- Meski berstatus orang tua tunggal dan sering mengalami motor mogok akibat genangan, Fathor Rasyid tetap konsisten mengajar tanpa absen.
LANGGAMPOS.COM - Dedikasi luar biasa ditunjukkan oleh Fathor Rasyid, seorang tenaga pendidik di ujung timur Pulau Madura. Pria berusia 42 tahun ini harus bertaruh dengan kondisi alam yang tidak bersahabat setiap kali menjalankan tugas mulianya.
Melansir dari laman Kompas.com (30/4/2026), Fathor yang merupakan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) kerap kali terpaksa menerjang genangan banjir demi bisa sampai di sekolah tepat waktu.
Ia menetap di Desa Pajanangger, Kecamatan Arjasa, namun tempatnya mengabdi berada di SDN Gelaman 3 yang terletak di Desa Gelaman, Pulau Kangean, Sumenep.
Setiap hari, guru agama ini harus menempuh jarak sekitar 12 kilometer sekali jalan. Jika dihitung pulang-pergi, ia melahap jarak sepanjang 24 kilometer dengan kondisi infrastruktur yang memprihatinkan.
Bukan sekadar jarak yang menjadi kendala, melainkan kondisi fisik jalanan yang sudah rusak berat di hampir seluruh ruas yang ia lalui dari hari Senin hingga Sabtu.
Situasi kian memburuk tatkala musim penghujan tiba. Air hujan seringkali menggenangi badan jalan hingga menciptakan kubangan besar yang mustahil untuk dihindari oleh kendaraan bermotor.
Salah satu titik yang paling ditakuti adalah genangan sepanjang 50 meter yang sering menutup akses utama. Kedalaman air di lokasi tersebut kerap berubah menjadi jebakan bagi para pengendara.
“Andai jalan bagus, jarak jauh mungkin masih enak. Tapi di sini, semua jalan rusak,” kata Fathor, Kamis (30/4/2026).
Fathor menceritakan bahwa ketinggian air seringkali melampaui batas wajar. Bahkan, ia pernah menemui kondisi di mana air nyaris menyentuh bagian jok sepeda motornya setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut.
Risiko motor mogok di tengah kepungan air sudah menjadi makanan sehari-harinya. Jika mesin sudah mati total akibat kemasukan air, ia tidak punya pilihan lain selain mencari bantuan dari kendaraan besar yang melintas.
“Setiap banjir, motor pasti mati. Pernah air hampir sampai jok, akhirnya saya minta bantuan pikap untuk membawa motor,” ingatnya.
Hambatan ini terasa semakin berat karena jalur tersebut merupakan satu-satunya akses penghubung menuju sekolah. Tidak ada jalan tikus atau rute alternatif yang bisa diambil untuk menghindari titik banjir tersebut.
Kondisi geografis jalan yang lebih rendah dibandingkan lahan persawahan di sisi kanan dan kiri menjadi penyebab utama mengapa air betah mengendap di sana.
Sekali hujan deras turun, banjir di jalanan tersebut bisa bertahan hingga lebih dari satu pekan karena drainase yang tidak berfungsi optimal.
Pengabdian Fathor di dunia pendidikan bukanlah seumur jagung. Ia sudah mulai mengajar sebagai tenaga sukarelawan sejak tahun 2005 sebelum akhirnya resmi diangkat sebagai guru PPPK pada tahun 2024 lalu.
“Tidak ada jalan lain. Setiap kali mau mengajar ya harus lewat banjir,” ucapnya dengan nada pasrah namun tersirat keteguhan hati.
Di balik seragamnya, Fathor memikul beban hidup yang tidak ringan. Ia adalah seorang ayah tunggal yang harus membesarkan dua buah hatinya yang masing-masing masih berusia 9 dan 7 tahun.
Setelah sang istri meninggal dunia, tanggung jawab mengurus rumah tangga dan mencari nafkah sepenuhnya berada di pundaknya, namun hal itu tak melunturkan semangatnya ke sekolah.
Bagi Fathor, kehadiran dirinya di dalam kelas adalah amanah yang tidak bisa ditawar. Ia tak ingin anak-anak didiknya kehilangan waktu belajar hanya karena hambatan akses jalan.
“Selama masih bisa dilewati, saya tetap berangkat. Anak-anak sudah menunggu di kelas. Kecuali sakit, baru izin,” tuturnya menutup pembicaraan.
(*)

