- Realisasi belanja negara hingga Maret 2026 menembus angka Rp815 triliun atau 21,2 persen dari pagu APBN.
- Pemerintah sengaja mempercepat serapan anggaran di awal tahun guna menghindari penumpukan belanja di akhir periode.
- Pertumbuhan pendapatan pajak yang mencapai 20,7 persen turut menjaga defisit anggaran tetap terkendali di level 0,93 persen terhadap PDB.
LANGGAMPOS.COM - Pemerintah mulai tancap gas dalam mengeksekusi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sejak awal tahun. Langkah agresif ini diambil sebagai bagian dari strategi besar untuk memastikan denyut nadi ekonomi nasional berdetak lebih kencang dan merata sepanjang tahun.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, memaparkan bahwa realisasi belanja negara mencatatkan rapor hijau dengan lonjakan signifikan sebesar 31,4 persen secara tahunan (year-on-year) pada triwulan pertama tahun ini.
Hingga penutupan Maret 2026, total dana yang telah digelontorkan pemerintah mencapai Rp815 triliun.
Angka tersebut setara dengan 21,2 persen dari total alokasi belanja yang ditetapkan dalam APBN 2026.
Pencapaian ini jauh melampaui performa periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pada triwulan I 2025, serapan belanja negara hanya menyentuh angka 17,1 persen dengan pertumbuhan yang cenderung stagnan di level 1,4 persen.
"Nah sehingga di triwulan pertama ini, belanja itu sudah mencapai 21,2% dari APBN-nya. 21,2%. Bandingkan dengan tahun lalu, dimana itu belanja hanya 17,1% dan growth hanya 1,4%," ujar Juda dalam acara National Policy Dialogue dan Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI) di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Laju positif ini tidak hanya terjadi di pos pengeluaran. Sisi penerimaan negara pun menunjukkan performa yang cukup menggembirakan dengan pertumbuhan setoran pajak sebesar 20,7 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu.
Sinergi antara belanja yang ekspansif dan pendapatan yang kuat ini membuat postur fiskal tetap sehat.
Pencapaian ini jauh melampaui performa periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pada triwulan I 2025, serapan belanja negara hanya menyentuh angka 17,1 persen dengan pertumbuhan yang cenderung stagnan di level 1,4 persen.
"Nah sehingga di triwulan pertama ini, belanja itu sudah mencapai 21,2% dari APBN-nya. 21,2%. Bandingkan dengan tahun lalu, dimana itu belanja hanya 17,1% dan growth hanya 1,4%," ujar Juda dalam acara National Policy Dialogue dan Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI) di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Laju positif ini tidak hanya terjadi di pos pengeluaran. Sisi penerimaan negara pun menunjukkan performa yang cukup menggembirakan dengan pertumbuhan setoran pajak sebesar 20,7 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu.
Sinergi antara belanja yang ekspansif dan pendapatan yang kuat ini membuat postur fiskal tetap sehat.
Tercatat, defisit anggaran hingga akhir Maret 2026 masih berada di level yang aman, yakni 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Juda menjelaskan bahwa lonjakan serapan anggaran di awal tahun merupakan buah dari pergeseran paradigma dalam manajemen fiskal.
Juda menjelaskan bahwa lonjakan serapan anggaran di awal tahun merupakan buah dari pergeseran paradigma dalam manajemen fiskal.
Pemerintah kini berupaya keras memutus siklus lama di mana belanja cenderung menumpuk di penghujung tahun.
"Karena kita ingin mengubah pola pengeluaran pemerintah, pola belanja pemerintah. Yang dulunya di triwulan empat itu adalah pertumbuhan yang tertinggi, sekarang ini dicoba untuk diratakan," tuturnya menjelaskan kebijakan tersebut.
Strategi pemerataan ini diharapkan mampu memberikan stimulus ekonomi yang konsisten dari kuartal ke kuartal, sehingga tidak terjadi lonjakan semu yang hanya terkonsentrasi di bulan-bulan terakhir.
Menatap periode selanjutnya, Kementerian Keuangan telah mematok target yang cukup ambisius.
"Karena kita ingin mengubah pola pengeluaran pemerintah, pola belanja pemerintah. Yang dulunya di triwulan empat itu adalah pertumbuhan yang tertinggi, sekarang ini dicoba untuk diratakan," tuturnya menjelaskan kebijakan tersebut.
Strategi pemerataan ini diharapkan mampu memberikan stimulus ekonomi yang konsisten dari kuartal ke kuartal, sehingga tidak terjadi lonjakan semu yang hanya terkonsentrasi di bulan-bulan terakhir.
Menatap periode selanjutnya, Kementerian Keuangan telah mematok target yang cukup ambisius.
Pemerintah membidik serapan belanja negara pada triwulan kedua mencapai 26 persen, angka yang sama juga ditargetkan pada kuartal keempat mendatang.
Melalui distribusi anggaran yang lebih proporsional ini, pemerintah optimis efek domino dari belanja negara dapat dirasakan oleh masyarakat secara lebih cepat dan berkelanjutan tanpa harus menunggu momentum pergantian tahun.
"Yang dulunya di triwulan empat itu adalah pertumbuhan yang tertinggi, sekarang ini dicoba untuk diratakan. Di triwulan satu 21%, di terulang dua targetnya 26% dan 26% di triwulan empat. Jadi ini memang tujuannya agar pertumbuhan ekonomi itu merata cepat dan terjadi di tahun yang sama," pungkas Juda.
Melalui distribusi anggaran yang lebih proporsional ini, pemerintah optimis efek domino dari belanja negara dapat dirasakan oleh masyarakat secara lebih cepat dan berkelanjutan tanpa harus menunggu momentum pergantian tahun.
"Yang dulunya di triwulan empat itu adalah pertumbuhan yang tertinggi, sekarang ini dicoba untuk diratakan. Di triwulan satu 21%, di terulang dua targetnya 26% dan 26% di triwulan empat. Jadi ini memang tujuannya agar pertumbuhan ekonomi itu merata cepat dan terjadi di tahun yang sama," pungkas Juda.
(*)

